SIAK,(CHANNEL.CO.ID) – PT Bumi Siak Pusako (BSP) selama ini kerap dipuja-puja sebagai “anak emas” daerah. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini selalu dibanggakan sebagai tulang punggung dan andalan utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Siak.
Namun, di balik gelontoran rupiah yang masuk ke kas daerah, tersimpan ironi kelam: PT BSP diduga kuat telah menjelma menjadi salah satu aktor utama perusak alam di tanah Siak.
Slogan pembangunan berkelanjutan yang sering didengungkan pemerintah daerah seolah runtuh ketika dihadapkan pada realita di lapangan. Keuntungan finansial yang dikejar tampaknya harus dibayar mahal oleh rusaknya ekosistem dan lingkungan hidup di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Kegagalan fatal ini tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab para petinggi di lingkaran elite perusahaan. Manajemen PT BSP dan jajaran pemegang saham dinilai menutup mata dan gagal total dalam menjaga regulasi lingkungan hidup di tempat mereka memeras isi bumi Siak. Tata kelola perusahaan (corporate governance) yang buruk dituding menjadi akar pembiaran ini, bukan sekadar kelalaian teknis semata.
Kritik pedas dan menohok pun datang langsung dari legislatif. Ketua DPRD Siak, Indra Gunawan
”Sangat miris melihat kenyataan ini. Di satu sisi, PT BSP selalu dibanggakan sebagai penyumbang PAD terbesar, tetapi di sisi lain, mereka adalah perusak alam Siak yang nyata. Ini terbukti setelah ‘Rapor Merah’ diberikan pada plat merah tersebut dari Kementerian Lingkungan Hidup,” ujar Indra Gunawan, Selasa (16/6/2026).
Indra secara gamblang menuding bahwa manajemen telah dibutakan oleh keuntungan finansial, hingga mengorbankan masa depan ekologi Siak.
”Nyata kegagalan total manajemen dan pemegang saham yang hanya bernafsu mengejar profit, namun abai dan mandul dalam menjaga lingkungan hidup tempat mereka beroperasi.
Jangan sampai PAD yang kita terima justru habis hanya untuk memulihkan kerusakan alam yang mereka perbuat,” tegasnya.
Kini, masyarakat Siak dihadapkan pada pilihan pahit: terus menikmati pundi-pundi PAD yang bersumber dari kerusakan tanah kelahiran mereka sendiri, atau bersuara lantang mendesak reformasi total di tubuh PT BSP sebelum alam mereka hancur tak tersisa.
LAPORAN: MASRONI




