SIAK,(CHANNEL24.CO.ID) – Retorika manis Bupati Siak, Afni Z, terkait pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk menyuplai kebutuhan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menabrak tembok realita.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di panggung formal, bupati begitu piawai mengumbar janji tentang kemandirian ekonomi daerah. Namun di balik podium, publik disuguhkan fakta pahit: komitmen menyejahterakan pengusaha lokal dituding hanya menjadi komoditas jualan politik yang jauh dari panggang api.

​Skeptisisme publik bukan tanpa alasan. Luka lama para pelaku usaha mikro di Siak belum sembuh setelah proyek pengadaan seragam gratis yang dijanjikan bakal digarap penjahit lokal, justru menguap.

Alih-alih menghidupkan konveksi rumahan di pelosok Siak, proyek bernilai menggiurkan tersebut secara ironis justru dilempar dan dikerjakan oleh pihak konveksi di Jakarta. Langkah ini dinilai sebagai bentuk pengkhianatan nyata terhadap keringat perajin daerah.

​”Bupati sangat pandai bicara dan merangkai kata soal UMKM, tapi faktanya proyek baju seragam saja dikerjakan konveksi Jakarta. Sekarang bicara lagi soal Dapur MBG, bagaimana masyarakat bisa percaya kalau polanya tetap sama?” cetus seorang pelaku usaha lokal dengan nada kecewa, Kamis (11/6/2026).

​Inkonsistensi yang mencolok ini membuat pidato-pidato optimistis bupati mengenai Dapur MBG kehilangan taring dan legitimasinya. Masyarakat kini melihat seruan bupati untuk menggunakan produk lokal tak lebih dari sekadar “lip service” untuk meredam kritik. Ada kekhawatiran besar bahwa nasib pemenuhan bahan baku Dapur MBG—mulai dari beras, lauk-pauk, hingga katering—akan berakhir sama: dikuasai vendor raksasa luar daerah, sementara pengusaha lokal kembali gigit jari.

​”Kita ada seribu lebih UMKM, mereka punya kesempatan, hasil komoditasnya dibeli dapur MBG. Kami telah melakukan MoU… kemudian dinas yang ditunjuk langsung berkomunikasi dengan UMKM dan petani,” terang Afni dengan nada meyakinkan pagi itu di salah satu media nasional.

Bupati Siak, Afni Z memaparkan bagaimana strategi Kabupaten Siak dalam memastikan program MBG mampu menyerap produk UMKM, hasil pertanian, peternakan, dan komoditas lokal sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kita ada 56 dapur MBG yang aktif, dulunya mereka beli bahan pangan MBG dari luar Siak. Kalau gitu, UMKM jadi penonton, karena uangnya mengalir ke luar,” kata Afni di layar kaca media swasta nasional itu.

Pernyataan yang dilontarkan Afni di hadapan pemirsa nasional ini adalah puncak dari sebuah ironi, jika tak layak disebut sebagai pembohongan publik yang dikemas rapi. Afni berlagak menjadi pahlawan ekonomi yang risau jika perputaran uang jatuh ke luar daerah.

Namun, publik Siak justru dipaksa menyaksikan fakta yang bertolak belakang: dalam proyek pengadaan seragam gratis yang bernilai fantastis, APBD Siak justru sengaja dialirkan untuk memperkaya konveksi besar di Jakarta.

​Sikap bupati yang mengkritik UMKM “jadi penonton” laksana menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Sebab, lewat kebijakan proyek seragam itulah Afni telah sukses mengubah para penjahit lokal Siak menjadi penonton yang melarat di rumah mereka sendiri.

Jika Pemkab Siak tidak segera mengubah arah kebijakan dan membuktikan keberpihakan konkret secara transparan, program Dapur MBG diprediksi hanya akan menguntungkan segelintir kapitalis. Akibatnya, UMKM Siak dipaksa tetap menjadi penonton di tanah sendiri, terhimpit di antara janji muluk bupati dan realitas yang mencekik.

Laporan: Masroni