​SIAK,(CHANNEL.24.CO.ID) – Keberadaan raksasa perkebunan PT KTU Astra di Desa Pangkalan Pisang, Kecamatan Koto Gasib, Kabupaten Siak, kembali memicu kemarahan masyarakat. Alih-alih memberikan kontribusi infrastruktur yang megah dan permanen bagi masyarakat setempat, jalur utama yang digunakan perusahaan untuk aktivitas operasionalnya ternyata berstatus jalan desa.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Hal ini ditegaskan secara gamblang oleh salah satu tokoh masyarakat Desa Pangkalan Pisang, Tamrin. Dalam sebuah konfirmasi, ia mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai status jalan yang membentang hingga ke Pos 1 perusahaan tersebut.

​”Kalau jalan itu sampai ke Pos 1 itu, itu desa punya, jalan lama itu. Nggak ada kaitan dengan PT Astra,” ujar Tamrin dengan nada kecewa. Pada Channel24. Rabu, (1/7/2026)

​Menurut Tamrin, sejarah akses jalan ini sudah ada jauh sebelum PT KTU Astra menancapkan kakinya di wilayah tersebut. Jalan yang semula dibuka pada era operasional PT Stanvac sebuah perusahaan minyak terdahulu—kini justru “dihabisi” oleh kendaraan-kendaraan berat korporasi sawit tanpa adanya komitmen pembangunan yang serius.

​Minim Kontribusi, Hanya “Gleder” dan Siram Batu Saat Didemo

​Tamrin juga membeberkan bahwa selama berpuluh-puluh tahun beroperasi sejak tahun 90-an, kontribusi PT KTU Astra terhadap jalan desa tersebut dinilai sangat minim dan cenderung bersifat formalitas belaka.

Pihak perusahaan baru akan bergerak melakukan perbaikan sekadarnya apabila sudah mendapat desakan kuat atau aksi unjuk rasa dari warga setempat.

​”Masyarakat protes jugalah, sampai demo-demo juga masyarakat kan. Ya paling-paling itu aja, dirapi-rapi pakai gleder, timbun dengan batu, kempek, Kalau hujan becek, kalau panas ya lahap debu,” ketus Tamrin.

​Kondisi ini kian memprihatinkan mengingat saat ini wilayah di sepanjang kiri dan kanan jalan tersebut sudah dipenuhi oleh pemukiman warga. Janji-janji manis seperti pembuatan parit batu di sepanjang jalan pun hingga kini hanya menjadi isapan jempol semata.

​Masyarakat Desa Pangkalan Pisang kini menaruh harapan besar agar pihak korporasi tidak sekadar mengeruk keuntungan dari bumi Siak, melainkan juga berkomitmen nyata dalam menjaga kelayakan infrastruktur demi keselamatan warga, bukan malah meninggalkan warisan debu dan jalan yang hancur.

Laporan: MASRONI